Kamis, 07 Oktober 2010



 
Selasa, 31 Agustus 2010 , 12:33:00
 
FOTO BERSAMA: Warga foto bersama dengan salah satu bedil lodong, kemarin.
Di samping unik, bedil lodong juga menyimpan sejarah tersendiri. Permainan ini ternyata sudah turun-temurun dimainkan sejak zaman penjajahan.

Laporan: RICO AFRIDO SIMANJUNTAK

BANGSA yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Mungkin kalimat itulah yang tepat ditujukan bagi masyarakat Jonggol. Betapa tidak, permainan bedil lodong yang menyimpan segudang sejarah masih dimainkan hingga kini. Kabarnya, tradisi tersebut berawal sejak zaman penjajahan Belanda.

“Bedil lodong sebagai gambaran dari peperangan melawan Belanda,” ujar Deden Murdeni (35), Ketua RW 06, Kampung Jagaita, Desa Jonggol, Kecamatan Jonggol, kemarin.

Di Desa Jonggol, terangnya, tradisi peperangan bedil lodong dilakukan dua kampung yang dipisahkan oleh Sungai Ciledug. Yakni, Kampung Jagaita dengan Kampung Ciledug, Desa Bendungan. Atau lebih tepatnya di tengah persawahan di RT 02/06, Kampung Jagaita, Desa Jonggol dan RT 03/07 Kampung Ciledug, Desa Bendungan.

Kenapa di sana? Kabarnya, nama kedua kampung tersebut memiliki sejarah tersendiri. “Karena dulunya tentara Belanda berperang melawan negara kita di dua kampung tersebut. Kampung Jagaita dinamakan karena tempat berjaga kita adalah negara Indonesia, sedangkan Kampung Ciledug dinamakan begitu karena dulunya sering terdengar bunyi “bledug-bledug” ketika zaman peperangan,” ungkapnya.

Tradisi bedil lodong tak hanya berlaku bagi warga di dua kampung tersebut. Warga kampung lain atau luar desa juga bisa ikut serta.

“Biasanya tradisi besar-besaran ini dilakukan tiap empat tahun sekali,” ungkapnya. Karena, tambah dia, tak sedikit biaya yang dikeluarkan untuk memainkannya. “Itu mengapa kita sepakat melakukannya tiap empat tahun sekali,” imbuhnya.

Budaya gotong royong juga tertanam dalam tradisi perang bedil lodong. Dana untuk mendapatkan bahan, seperti karbit dan pinang, dilakukan secara kolektif atau sukarela.

“Tiap tradisi peperangan bedil lodong bisa menghabiskan sekitar Rp600 ribu. Dana tersebut untuk membeli puluhan karbit yang bisa menghasilkan ratusan suara ledakan meriam,” tambahnya.

Suara yang dihasilkan bedil lodong berukuran besar berbeda dengan bedil lodong dari bambu. “Bunyinya bisa terdengar hingga radius lima kilometer,” pungkasnya. (*)
 


 
Senin, 30 Agustus 2010 , 11:16:00
 
Tidak hanya bulan puasa, bedil lodong juga marak dimainkan saat Lebaran. Saat itu, suasana akan meriah oleh dentuman bedil yang terdengar silih berganti.

Laporan: Rico Afrido Simanjuntak

Masyarakat Kampung Jagaita Desa Jonggol dan Kampung Ciledug Desa Bedungan, rutin mengadakan kegiatan bedil lodong menyambut Ramadan. Tradisi yang sudah hampir punah ini, ternyata cukup ampuh menjadi alternatif pengganti petasan. Peminatnya juga banyak, tidak hanya anak-anak, orang dewasa juga banyak yang memainkannya.

“Selain itu, permainan bedil lodong juga diadakan untuk melestarikan kebudayaan Sunda yang sudah sangat jarang dimainkan. Apalagi oleh anak-anak pada zaman sekarang,” ujar Humas Kecamatan Jonggol, Omin Alyadi, kepada Radar Bogor.

Biasanya, kata dia, permainan bedil lodong dilakukan di tempat terbuka yang jauh dari pemukiman masyarakat. Atau di tengah sawah yang sudah panen. “Soalnya kalau dimainkan dekat pemukiman, pasti akan menganggu,” tuturnya.

Ia menjelaskan, lodong atau meriam bambu ini, salah satu permainan anak-anak yang cukup populer di Desa Jonggol. Karena sangat mengasyikkan, penuh sensasi sekaligus tantangan.

Bedil lodong, terang dia, biasanya dimainkan dua kelompok yang saling berhadapan dengan jarak sekitar 10 meter. Setelah diisi karbit dan ditambah air serta diberi api, suara ledakan akan terdengar. Dan itu menandakan permainan sudah dimulai. “Suara yang paling kencang berarti dia pemenangnya,” kata Omin.

Ia juga menambahkan, untuk anak-anak di bawah umur, pihaknya ikut mengawasi, khawatir terjadi sesuatu. “Namun, sampai saat ini permainan yang dianggap sudah tua itu, tetap menjadi salah satu alternatif kami dalam menyambut dan merayakan bulan suci Ramadan,” tambah Omin.

Pihaknya melihat, permainan bedil lodong merupakan satu bentuk pelestarian kebudayaan Sunda yang sudah mulai punah. Apalagi, permainan tersebut sudah sangat jarang dimainkan anak-anak di Bogor. “Kebanyakan anak-anak sekarang mainnya play station, game online atau facebook. Tapi, warga di sini (Jonggol, red) tidak, mereka ikut serta melestarikan kebudayaan Sunda itu,” jelas Omin.(*)


 
Sabtu, 28 Agustus 2010 , 11:01:00
 
MERIAM TRADISIONAL: Warga tengah membersihkan lubang bedil lodong di Kampung Jagaita, Desa Jonggol, kemarin.
Bedil lodong adalah permainan legendaris yang masih membudaya di daerah Jonggol. Tradisi yang sudah hampir punah ini, ternyata cukup diminati warga, baik anak-anak maupun dewasa. Seperti apa?

Laporan: Rico Afrido Simanjuntak

BERAGAM cara dilakukan untuk menunggu saat berbuka puasa atau sahur.

Di daerah Jonggol, tepatnya di RT 02/06, Kampung Jagaita, Desa Jonggol dan RT 03/07 Kampung Ciledug, Desa Bendungan, warga memiliki tradisi menunggu berbuka, dengan perang bedil atau biasa disebut bedil lodong. Permainan ini ternyata tak hanya diminati anak-anak, juga orang dewasa.

Bedil lodong adalah meriam tradisional yang biasanya terbuat dari bambu dengan panjang kira-kira satu atau 1,5 meter. Bagian dalamnya dibobok hingga berlubang. Yang tersisa cuma penghalang di salah satu ujung. Pada bagian atasnya, dibuat lubang kecil yang berfungsi untuk menyulut bedil dengan api.

Untuk memainkannya tidak susah.Bagian moncong bedil ditaruh agak ke atas. Masukkan sedikit air ke dalam bambu, diikuti sepotong karbit. Lubang sulut ditutup. Beberapa saat kemudian, setelah karbit hancur lubang sulut dibuka dan api didekatkan. Maka, akan terdengar bunyi “Duaaarrr!”

Biasanya, sore hari di bulan puasa, budaya tradisional ini dimainkan. Makin mengasyikkan memang jika suara bedil lodong saling bersahutan. Meski menimbulkan suara menggelegar, sangat jarang terjadi kecelakaan. Berbeda dengan mercon atau petasan yang dulu hingga saat ini, sering menimbulkan banyak korban jiwa dan harta benda. Bedil lodong tergolong mainan yang aman.

Berbeda dengan biasanya, bedil lodong yang ada di daerah Jonggol ukurannya cukup besar. Terbuat dari pohon pinang (jambe) yang bagian dalamnya sudah dibobok. Panjangnya mencapai 3 meter dengan diameter 30 cm. Bisa dibilang bedil lodong yang satu ini cukup legendaris pada masanya. “Biasanya kalau bulan puasa di sini (Jonggol, red), dibunyikan untuk membangunkan orang sahur, dan menunggu waktu berbuka puasa atau ngabuburit,” ujar Deden Murdeni (35) Ketua RW 06, Kampung Jagaita, Desa Jonggol, Kecamatan Jonggol.(*)


 
Jum'at, 20 Agustus 2010 , 11:20:00
 
BIBIT: Petugas Kebun Anggrek Gunung Geulis sedang merapikan beberapa bibit anggrek.
Jumlah petani anggrek di Indonesia saat ini mencapai dua juta. Namun, keberadaan mereka belum terperhatikan oleh pemerintah. Bahkan, para petani anggrek saat ini banyak mengeluhkan birokrasi dan mahalnya biaya perijinan.
Laporan: Rico Afrido Simanjuntak

BUKAN hanya kendala teknis, regulasi dan birokrasi juga belum mendukung pengembangan sektor penganggrekan nasional. Sehingga banyak sekali keluhan dari penganggrekan mengenai perizinan. Bahkan, izin usaha untuk mendirikan kebun anggrek pun masih harus menempuh jalan panjang dengan biaya beragam. Menurut Mufidah Kalla, hal ini tentu saja menambah biaya produksi yang akhirnya menjadikan tingginya harga jual bibit maupun anggrek.

Sementara itu, di negara lain kata dia, sebut saja Taiwan, pemerintah mendukung dengan memberikan kemudahan pengurusan izin. Tak sampai satu minggu sudah dapat mengurus izin dengan biaya yang pasti. Bandingkan dengan di Indonesia, butuh waktu minimal lima bulan dengan biaya beragam. “Andaikan proses ini bisa disederhanakan, tentu akan membangkitkan minat para pengusaha yang akan memulai bisnis anggrek,” katanya.

Ia mengatakan, bisnis anggrek masih dipandang sebelah mata. Padahal, lanjutnya, bisnis tersebut berpotensi besar meningkatkan pendapatan petani, lebih luas lagi untuk mendatangkan devisa.

Di Taiwan, anggrek digarap serius. Bahkan Pemerintah Taiwan telah mengalokasikan dana sebesar 300 juta NT pada 2008 untuk mengembangkan anggrek. Tak hanya perizinan yang mudah, Pemerintah Taiwan pun membangun Orchid Bio Tech Park seluas 200 hektare di Tainan. Taman anggrek tersebut bukan semata-semata mengumpulkan plasma nutfah dan indukan anggrek unggulan, tapi juga memanfaatkan bioteknologi untuk mengembangkan anggrek.

“Tidak bermaksud membandingkan, hanya tak ada salahnya jika kita memetik hal yang bagus dari negeri tetangga untuk kemudian diterapkan di negeri ini,” ungkapnya.

Masih berkaitan dengan Taiwan, dia menjelaskan bahwa untuk pembangunan kebun anggrek di Gunung Geulis Bogor, pihaknya hanya dibantu Taiwan. “Bukan kerjasama, saya hanya dibantu oleh Taiwan.

Sudah cita-cita saya dari dulu untuk mengembangkan anggrek, mulai dari bibit. Tujuannya untuk membagi-bagikan kepada petani dengan harga murah,” paparnya.

Mufidah menyebutkan, saat ini kebutuhan bunga anggrek potong mencapai 57 juta tangkai setahun.

“Ekspor kita saat ini 9 juta US dolar, sementara di pasar dalam negeri sekitar dua kali lipat. Ekspornya ke Jepang, China, Singapura dan Korea. Mereka minta ke kita karena belum mencukupi di sana,” papar Mufidah.

Namun, saat ini, lanjut dia, pihaknya belum menghitung berapa harga yang akan diberikan kepada petani, karena kebun tersebut baru saja dibuka.(*)


 
Kamis, 19 Agustus 2010 , 11:04:00
 
PERAWATAN: Petugas kebun sedang menyiram bibit anggrek di Kebun Anggrek Gunung Geulis, kemarin.
Kaum ibu umumnya menyukai tanaman. Seperti halnya Mufidah Kalla yang begitu serius dengan hobinya menanam anggrek. Sampai-sampai, ia mendirikan rumah pembibitan anggrek beserta tempat pembuahannya. Tak tanggung-tangggung, kebun anggreknya itu terbesar di Indonesia.

Laporan: Rico Afrido Simanjuntak

KETIKA ditanya alasannya memilih anggrek dan mendirikan kebunnya di Bogor? Mufidah mengaku sudah menyukai anggrek sejak lama. “Melihat anggrek segar sekali. Sejak dulu saya suka sekali. Jenis anggrek yang saya sukai itu anggrek bulan, karena paling bagus. Untuk tempat, karena kebetulan punya tanah di sini (Bogor, red),” katanya.

Menurut dia, pembangunan kebun bibit dan kebun bunga tersebut untuk membantu petani anggrek yang saat ini belum mendapat perhatian penuh dari pemerintah.

Ia menyebutkan, perkebunan tersebut sementara ini masih merupakan kebun terbesar di Indonesia. Secara keseluruhan total luas lahan kebun bibit anggrek miliknya di kawasan Gunung Geulis itu, mencapai 12 hektare. Sementara untuk luas kebun bunga anggrek mencapai 16 hektare. “Saat ini masing-masing baru 3.000 meter persegi yang terpakai. Tadinya tidak berfungsi, cuma ditanam ubi oleh masyarakat di sini (Gunung Geulis, red),” ucapnya.

Selama ini, menurutnya, bibit yang dikembangkan di masyarakat kebanyakan masih impor. Dan pernah terjadi kerisauan ketika pemerintah menetapkan larangan impor bibit tanaman bubidaya, termasuk anggrek. Sementara, Indonesia belum mampu menghasilkan bibit sendiri. “Bibit impor memang memudahkan pembudidayaan anggrek. Namun, hal itu akan menimbulkan ketergantungan,” tambahnya.

Padahal, lanjut dia, Indonesia punya potensi ragam anggrek yang bisa disilangkan, sekaligus penyilang andal yang bisa menghasilkan silangan anggrek berkualitas tinggi.

Berawal dari kenyataan tersebut kebun anggrek tersebut dibangun. “Impiannya adalah bisa menyediakan bibit unggul untuk petani anggrek di Indonesia, sehingga tak perlu mendatangkan dari luar negeri,” tutur Mufidah.

Dirinya menyadari, langkah tertsebut bukanlah hal yang mudah. Karena ada beberapa kendala yang membutuhkan solusi dan dukungan dari berbagai pihak. Ia mengatakan, kendala teknisnya yakni ketersediaan bibit awal memang masih didatangkan dari luar negeri yakni Taiwan.

Dia menyebutkan, banyak petani yang mengeluh harus mendapatkan bibit dari Taiwan. “Mereka merasa rugi, karena mereka akan jual juga. Untung yang didapat hanya sedikit. Jadi saya usahakan bibit buat petani, saya usahakan lebih murah sekitar 30 persen di bawah harga sebenarnya. Mereka bisa jual lebih mahal dan untung dari situ,” katanya.

Namun, ke depannya ia berharap kebun bibit tersebut mampu menghasilkan silangan sendiri dan diperbanyak untuk memenuhi kebutuhan petani.

Saat ini, total varietas bunga anggrek di kebun anggrek Gunung Geulis mencapai 60 jenis. Sementara, jumlah bibit dalam pot 1,7 inci mencapai sekitar 72.000 dengan berbagai macam varietas atau bunga. Sementara, bibit dalam pot 2,5 inci ada sekitar 8.000. “Mudah-mudahan dalam tiga tahun bisa tercapai. Itu target maksimal kita produksi,” kata Mufidah. (*)


 
Rabu, 18 Agustus 2010 , 11:32:00
 
PEMBIBITAN: Mufidah Kalla memotong tumpeng pada peresmian kebun bibit anggrek Gunung Geulis, Sukaraja, 5 Agustus 2010.
Kebun bibit anggrek dan kebun bunga anggrek terbesar se-Indonesia dikembangkan di Bogor. Kebun bibit berada di Gunung Geulis, Kecamatan Sukaraja, sedangkan kebun bunga anggrek di Citeko, Kecamatan Cisarua. Kedua kebun itu kini resmi beroperasi setelah dibuka Mufidah Jusuf Kalla, 5 Agustus lalu.
Laporan: Rico Afrido Simanjuntak

PERNAHKAH Anda membayangkan, bagaimana satu pot bunga anggrek bulan dihasilkan? Tanaman yang kelihatannya tak berkayu ini butuh bertahun-tahun untuk tumbuh hingga berbunga. Minimal, empat tahun membungakan dendrobium dan lima tahun untuk anggrek bulan. Bahkan bisa lebih dari itu. Karena ada beberapa proses yang harus dilewati sebuah benih anggrek untuk menjadi bunga.

Mulai dari penyilangan untuk menghasilkan benih, kemudian menyemai menjadi bibit botolan, lantas mengeluarkan dalam bentuk compot (Community pot), memisahkan tanaman dalam bentuk seedling, terakhir membesarkan hingga berbunga.

Nah, semua proses itu dikerjakan di Bogor, yakni di kebun bibit Gunung Geulis dan kebun anggrek Citeko. Masingmasing tahap membutuhkan kondisi dan lingkungan khusus. Untuk pertumbuhan vegetatif (dari benih sampai tanaman dewasa) membutuhkan suhu tak terlalu dingin agar cepat besar. Sedangkan membungakan membutuhkan perbedaan suhu siang dan malam dengan perbedaan mencolok.

“Makanya harus ditempatkan di dataran tinggi. Itulah alasannya mengapa Gunung Geulis dipilih sebagai lokasi kebun bibit untuk botolan hingga tanaman dewasa, dan Citeko sebagai lokasi pembungaan,” ujar Mufidah Kalla, yang juga Perhimpunan Anggrek Indonesia saat peresmian.

Mengenai jenis anggreknya kata Mufidah, dipilih dendrobium dan silangan anggrek bulan (Phalaenopis). Pertimbangannya, kedua marga anggrek tersebut menduduki peringkat atas dalam kuantitas permintaan. “Bisa dikatakan, kedua anggrek itu (dendrobium dan anggrek bulan, red) paling populer di masyarakat. Menyusul Vanda, Catteleya dan Oncidim. Dendrobium dan Phalaenopis digemari karena bunganya yang indah dan harganya terjangkau. Tak heran jika kebutuhan petani anggrek untuk bibit pun tinggi,” papar Mufidah. (*)
 


 
Sabtu, 07 Agustus 2010 , 10:47:00
 
PRODUKSI : Pekerja tengah membuat kompor mitan di bengkel Didih, kemarin.

Sama seperti halnya pengrajin sepatu di Ciomas, permasalahan utama yang kini dihadapi Didih dalam menjalankan usahanya adalah modal. Wajar saja, jika dirinya tertatih-tatih bertahan menjadi pembuat kompor mitan di tengah beratnya tekanan ekonomi.

Laporan:Rico Afrido Simanjuntak

Saat jam istirahat menunjukkan tepat pukul 12:00, bengkel kerja kompor mitan milik Didih di RT 04/04, Kampung Bojong, Desa Tarikolot, Kecamatan Citeureup, terlihat sepi. Di bengkel seluas 60 meterpersegi itu, hanya nampak tumpukan bagian-bagian kompor mitan yang belum terpasang. Ya, ketika jam istirahat, Didih dan empat pekerjanya pulang ke rumah masing-masing untuk mengisi perut.

Setengah jam berlalu, Didih dan empat pekerjanya satu persatu kembali ke bengkel. Dan mereka pun mulai bekerja. Sambil bekerja, Didih menyempatkan diri berbincang-bincang dengan wartawan koran ini.

Ia mengeluhkan kebijakan pemerintah mengenai konversi mitan ke gas. Betapa tidak, sebelum ada kebijakan tersebut, permintaan kompor mitan di pasaran cukup pesat. “Dulu sebelum ada kebijakan konversi itu, sebulan bisa seratus kompor mitan kami produksi, dan semuanya laku di pasaran,” ucap Didih.

Jumlah pekerjanya pun lanjut Didih, masih banyak. “Dulu, di bengkel saya ada 20 pekerja termasuk saya,” imbuhnya. Namun kata dia, sejak ada kebijakan konversi, 15 pekerja terpaksa dikeluarkan. “Sebenarnya tak tega, tapi mau gimana lagi, soalnya belakangan ini penjualan kompor mitan sepi,” katanya.

Bahkan terangnya, hasil karyanya sering dipasarkan ke luar kota seperti Lampung, Kalimantan dan Sumatera. “Tapi itu dulu, sekarang hanya dijual di Pasar Citeureup. Itu pun jarang ada yang beli,” ungkapnya.

Seiring maraknya peristiwa ledakan tabung gas elpiji 3 kg. Permintaan kompor mitan buatannya pun mulai dicari warga. “Satu sisi bisa menguntungkan kami, tapi di sisi lain sedih juga kalau melihat korban ledakan itu,” kata dia.

Untuk itu, dirinya berharap Pemkab Bogor bisa memperhatikan nasib mereka dengan cara meminjamkan modal. Karena sejak awal terjun menekuni usaha pembuatan kompor mitan hingga kini, menurut Didih tak pernah ada perhatian dari pemkab. “Coba, ada modal pinjaman dari pemerintah, pastinya kita tak pusing memikirkan nasib,” pungkasnya. (*)