Selasa, 31 Agustus 2010 , 12:33:00 FOTO BERSAMA: Warga foto bersama dengan salah satu bedil lodong, kemarin. Di samping unik, bedil lodong juga menyimpan sejarah tersendiri. Permainan ini ternyata sudah turun-temurun dimainkan sejak zaman penjajahan. Laporan: RICO AFRIDO SIMANJUNTAK BANGSA yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Mungkin kalimat itulah yang tepat ditujukan bagi masyarakat Jonggol. Betapa tidak, permainan bedil lodong yang menyimpan segudang sejarah masih dimainkan hingga kini. Kabarnya, tradisi tersebut berawal sejak zaman penjajahan Belanda. “Bedil lodong sebagai gambaran dari peperangan melawan Belanda,” ujar Deden Murdeni (35), Ketua RW 06, Kampung Jagaita, Desa Jonggol, Kecamatan Jonggol, kemarin. Di Desa Jonggol, terangnya, tradisi peperangan bedil lodong dilakukan dua kampung yang dipisahkan oleh Sungai Ciledug. Yakni, Kampung Jagaita dengan Kampung Ciledug, Desa Bendungan. Atau lebih tepatnya di tengah persawahan di RT 02/06, Kampung Jagaita, Desa Jonggol dan RT 03/07 Kampung Ciledug, Desa Bendungan. Kenapa di sana? Kabarnya, nama kedua kampung tersebut memiliki sejarah tersendiri. “Karena dulunya tentara Belanda berperang melawan negara kita di dua kampung tersebut. Kampung Jagaita dinamakan karena tempat berjaga kita adalah negara Indonesia, sedangkan Kampung Ciledug dinamakan begitu karena dulunya sering terdengar bunyi “bledug-bledug” ketika zaman peperangan,” ungkapnya. Tradisi bedil lodong tak hanya berlaku bagi warga di dua kampung tersebut. Warga kampung lain atau luar desa juga bisa ikut serta. “Biasanya tradisi besar-besaran ini dilakukan tiap empat tahun sekali,” ungkapnya. Karena, tambah dia, tak sedikit biaya yang dikeluarkan untuk memainkannya. “Itu mengapa kita sepakat melakukannya tiap empat tahun sekali,” imbuhnya. Budaya gotong royong juga tertanam dalam tradisi perang bedil lodong. Dana untuk mendapatkan bahan, seperti karbit dan pinang, dilakukan secara kolektif atau sukarela. “Tiap tradisi peperangan bedil lodong bisa menghabiskan sekitar Rp600 ribu. Dana tersebut untuk membeli puluhan karbit yang bisa menghasilkan ratusan suara ledakan meriam,” tambahnya. Suara yang dihasilkan bedil lodong berukuran besar berbeda dengan bedil lodong dari bambu. “Bunyinya bisa terdengar hingga radius lima kilometer,” pungkasnya. (*) | ||
Kamis, 07 Oktober 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar