Kamis, 07 Oktober 2010



 
Kamis, 19 Agustus 2010 , 11:04:00
 
PERAWATAN: Petugas kebun sedang menyiram bibit anggrek di Kebun Anggrek Gunung Geulis, kemarin.
Kaum ibu umumnya menyukai tanaman. Seperti halnya Mufidah Kalla yang begitu serius dengan hobinya menanam anggrek. Sampai-sampai, ia mendirikan rumah pembibitan anggrek beserta tempat pembuahannya. Tak tanggung-tangggung, kebun anggreknya itu terbesar di Indonesia.

Laporan: Rico Afrido Simanjuntak

KETIKA ditanya alasannya memilih anggrek dan mendirikan kebunnya di Bogor? Mufidah mengaku sudah menyukai anggrek sejak lama. “Melihat anggrek segar sekali. Sejak dulu saya suka sekali. Jenis anggrek yang saya sukai itu anggrek bulan, karena paling bagus. Untuk tempat, karena kebetulan punya tanah di sini (Bogor, red),” katanya.

Menurut dia, pembangunan kebun bibit dan kebun bunga tersebut untuk membantu petani anggrek yang saat ini belum mendapat perhatian penuh dari pemerintah.

Ia menyebutkan, perkebunan tersebut sementara ini masih merupakan kebun terbesar di Indonesia. Secara keseluruhan total luas lahan kebun bibit anggrek miliknya di kawasan Gunung Geulis itu, mencapai 12 hektare. Sementara untuk luas kebun bunga anggrek mencapai 16 hektare. “Saat ini masing-masing baru 3.000 meter persegi yang terpakai. Tadinya tidak berfungsi, cuma ditanam ubi oleh masyarakat di sini (Gunung Geulis, red),” ucapnya.

Selama ini, menurutnya, bibit yang dikembangkan di masyarakat kebanyakan masih impor. Dan pernah terjadi kerisauan ketika pemerintah menetapkan larangan impor bibit tanaman bubidaya, termasuk anggrek. Sementara, Indonesia belum mampu menghasilkan bibit sendiri. “Bibit impor memang memudahkan pembudidayaan anggrek. Namun, hal itu akan menimbulkan ketergantungan,” tambahnya.

Padahal, lanjut dia, Indonesia punya potensi ragam anggrek yang bisa disilangkan, sekaligus penyilang andal yang bisa menghasilkan silangan anggrek berkualitas tinggi.

Berawal dari kenyataan tersebut kebun anggrek tersebut dibangun. “Impiannya adalah bisa menyediakan bibit unggul untuk petani anggrek di Indonesia, sehingga tak perlu mendatangkan dari luar negeri,” tutur Mufidah.

Dirinya menyadari, langkah tertsebut bukanlah hal yang mudah. Karena ada beberapa kendala yang membutuhkan solusi dan dukungan dari berbagai pihak. Ia mengatakan, kendala teknisnya yakni ketersediaan bibit awal memang masih didatangkan dari luar negeri yakni Taiwan.

Dia menyebutkan, banyak petani yang mengeluh harus mendapatkan bibit dari Taiwan. “Mereka merasa rugi, karena mereka akan jual juga. Untung yang didapat hanya sedikit. Jadi saya usahakan bibit buat petani, saya usahakan lebih murah sekitar 30 persen di bawah harga sebenarnya. Mereka bisa jual lebih mahal dan untung dari situ,” katanya.

Namun, ke depannya ia berharap kebun bibit tersebut mampu menghasilkan silangan sendiri dan diperbanyak untuk memenuhi kebutuhan petani.

Saat ini, total varietas bunga anggrek di kebun anggrek Gunung Geulis mencapai 60 jenis. Sementara, jumlah bibit dalam pot 1,7 inci mencapai sekitar 72.000 dengan berbagai macam varietas atau bunga. Sementara, bibit dalam pot 2,5 inci ada sekitar 8.000. “Mudah-mudahan dalam tiga tahun bisa tercapai. Itu target maksimal kita produksi,” kata Mufidah. (*)


 
Rabu, 18 Agustus 2010 , 11:32:00
 
PEMBIBITAN: Mufidah Kalla memotong tumpeng pada peresmian kebun bibit anggrek Gunung Geulis, Sukaraja, 5 Agustus 2010.
Kebun bibit anggrek dan kebun bunga anggrek terbesar se-Indonesia dikembangkan di Bogor. Kebun bibit berada di Gunung Geulis, Kecamatan Sukaraja, sedangkan kebun bunga anggrek di Citeko, Kecamatan Cisarua. Kedua kebun itu kini resmi beroperasi setelah dibuka Mufidah Jusuf Kalla, 5 Agustus lalu.
Laporan: Rico Afrido Simanjuntak

PERNAHKAH Anda membayangkan, bagaimana satu pot bunga anggrek bulan dihasilkan? Tanaman yang kelihatannya tak berkayu ini butuh bertahun-tahun untuk tumbuh hingga berbunga. Minimal, empat tahun membungakan dendrobium dan lima tahun untuk anggrek bulan. Bahkan bisa lebih dari itu. Karena ada beberapa proses yang harus dilewati sebuah benih anggrek untuk menjadi bunga.

Mulai dari penyilangan untuk menghasilkan benih, kemudian menyemai menjadi bibit botolan, lantas mengeluarkan dalam bentuk compot (Community pot), memisahkan tanaman dalam bentuk seedling, terakhir membesarkan hingga berbunga.

Nah, semua proses itu dikerjakan di Bogor, yakni di kebun bibit Gunung Geulis dan kebun anggrek Citeko. Masingmasing tahap membutuhkan kondisi dan lingkungan khusus. Untuk pertumbuhan vegetatif (dari benih sampai tanaman dewasa) membutuhkan suhu tak terlalu dingin agar cepat besar. Sedangkan membungakan membutuhkan perbedaan suhu siang dan malam dengan perbedaan mencolok.

“Makanya harus ditempatkan di dataran tinggi. Itulah alasannya mengapa Gunung Geulis dipilih sebagai lokasi kebun bibit untuk botolan hingga tanaman dewasa, dan Citeko sebagai lokasi pembungaan,” ujar Mufidah Kalla, yang juga Perhimpunan Anggrek Indonesia saat peresmian.

Mengenai jenis anggreknya kata Mufidah, dipilih dendrobium dan silangan anggrek bulan (Phalaenopis). Pertimbangannya, kedua marga anggrek tersebut menduduki peringkat atas dalam kuantitas permintaan. “Bisa dikatakan, kedua anggrek itu (dendrobium dan anggrek bulan, red) paling populer di masyarakat. Menyusul Vanda, Catteleya dan Oncidim. Dendrobium dan Phalaenopis digemari karena bunganya yang indah dan harganya terjangkau. Tak heran jika kebutuhan petani anggrek untuk bibit pun tinggi,” papar Mufidah. (*)
 


 
Sabtu, 07 Agustus 2010 , 10:47:00
 
PRODUKSI : Pekerja tengah membuat kompor mitan di bengkel Didih, kemarin.

Sama seperti halnya pengrajin sepatu di Ciomas, permasalahan utama yang kini dihadapi Didih dalam menjalankan usahanya adalah modal. Wajar saja, jika dirinya tertatih-tatih bertahan menjadi pembuat kompor mitan di tengah beratnya tekanan ekonomi.

Laporan:Rico Afrido Simanjuntak

Saat jam istirahat menunjukkan tepat pukul 12:00, bengkel kerja kompor mitan milik Didih di RT 04/04, Kampung Bojong, Desa Tarikolot, Kecamatan Citeureup, terlihat sepi. Di bengkel seluas 60 meterpersegi itu, hanya nampak tumpukan bagian-bagian kompor mitan yang belum terpasang. Ya, ketika jam istirahat, Didih dan empat pekerjanya pulang ke rumah masing-masing untuk mengisi perut.

Setengah jam berlalu, Didih dan empat pekerjanya satu persatu kembali ke bengkel. Dan mereka pun mulai bekerja. Sambil bekerja, Didih menyempatkan diri berbincang-bincang dengan wartawan koran ini.

Ia mengeluhkan kebijakan pemerintah mengenai konversi mitan ke gas. Betapa tidak, sebelum ada kebijakan tersebut, permintaan kompor mitan di pasaran cukup pesat. “Dulu sebelum ada kebijakan konversi itu, sebulan bisa seratus kompor mitan kami produksi, dan semuanya laku di pasaran,” ucap Didih.

Jumlah pekerjanya pun lanjut Didih, masih banyak. “Dulu, di bengkel saya ada 20 pekerja termasuk saya,” imbuhnya. Namun kata dia, sejak ada kebijakan konversi, 15 pekerja terpaksa dikeluarkan. “Sebenarnya tak tega, tapi mau gimana lagi, soalnya belakangan ini penjualan kompor mitan sepi,” katanya.

Bahkan terangnya, hasil karyanya sering dipasarkan ke luar kota seperti Lampung, Kalimantan dan Sumatera. “Tapi itu dulu, sekarang hanya dijual di Pasar Citeureup. Itu pun jarang ada yang beli,” ungkapnya.

Seiring maraknya peristiwa ledakan tabung gas elpiji 3 kg. Permintaan kompor mitan buatannya pun mulai dicari warga. “Satu sisi bisa menguntungkan kami, tapi di sisi lain sedih juga kalau melihat korban ledakan itu,” kata dia.

Untuk itu, dirinya berharap Pemkab Bogor bisa memperhatikan nasib mereka dengan cara meminjamkan modal. Karena sejak awal terjun menekuni usaha pembuatan kompor mitan hingga kini, menurut Didih tak pernah ada perhatian dari pemkab. “Coba, ada modal pinjaman dari pemerintah, pastinya kita tak pusing memikirkan nasib,” pungkasnya. (*)


 
Jum'at, 06 Agustus 2010 , 12:35:00
 
SEMANGAT: Meski sepi orderan, karyawan bengkel kompor mitan Didih tetap semangat bekerja.
Kegigihan Didih mempertahankan usaha pembuatan kompor mitannya, memang patut diacungi jempol. Selain permintaan pasar sangat sedikit, pembuatan kompor mitan pun mengandung risiko.

Laporan: Rico Afrido Simanjuntak

Tuntunan hidup merupakan alasan kuat mengapa Didih masih bertahan dengan usahanya membuat kompor mitan. “Habis mau gimana lagi, keahlian saya cuma membuat kompor mitan,” ujar Didih, sambil membakar sebatang rokok kreteknya.

Meski tempat kerjanya (bengkel, red) tak terawat, Didih dengan pekerjanya memulai aktivitas membuat kompor mitan seperti “orang kantoran”. “Kami biasa mulai kerja dari pukul 08:00 hingga 16:00. Ya, seperti jam kerja kantoran,” ucapnya.

Menurut dia, diberlakukan jam kerja kantoran bukan karena ingin meniru karyawan kantoran atau pabrik, tapi lebih karena ingin mendisiplinkan pekerjanya.

“Lagi pula enak kok kalau kerja disiplin,” tambahnya. Jam istirahat pun digunakan pekerjanya untuk makan siang dan salat.

Ketika memulai usaha membuat kompor mitan, Didih mengaku banyak pengalaman menarik. “Dulu karena belum terbiasa, awal-awalnya tangan saya pernah tergetok palu sendiri,” ungkapnya sambil tertawa.

Bahkan, dirinya mengaku pernah tergetok palu sendiri sampai lima kali. Tapi hal demikian bukan menjadi hambatan baginya menjalani pekerjaan sebagai pembuat kompor mitan. “Cuma lecet-lecet sedikit tak masalah lah. Yang penting apa yang saya kerjakan itu bisa menghasilkan uang,” imbuhnya.

Ilmu membuat kompor mitan ini ia peroleh dari sang kakak. “Saya bisa membuat kompor mitan karena kakak,” ucapnya. Ketika masih bujangan, dirinya diajari sang kakak yang juga membuka usaha kompor mitan di kawasan Cawang, Jakarta. “Kakak saya bisa membuat kompor mitan dan mengajari saya, karena diajari ayah. Jadi kami bisa dibilang keluarga pembuat kompor mitan,” urainya sambil tertawa lepas seperti tak ada beban.(*)


 
Kamis, 05 Agustus 2010 , 13:00:00
 
BERTAHAN: Pengrajin di bengkel Didih Kampung Bojong, RT 04/04, Desa Tarikolot, Citeureup, sedang membuat kompor mitan.
Kebijakan pemerintah pusat mengonversi minyak tanah (mitan) ke gas, membuat para pengrajin kompor mitan di wilayah Kecamatan Citeureup gulung tikar. Namun, siapa sangka, ada home industry kompor mitan yang masih bertahan hingga kini. Ya, pemiliknya bernama Didih (48), warga Kampung Bojong, RT 04/04, Desa Tarikolot, Kecamatan Citeureup.

Laporan:Rico Afrido Simanjuntak

KEMARIN, wartawan koran ini mendapat tugas liputan di wilayah Citeureup. Ketika menyambangi kawasan Kampung Bojong, RT 04/04, Desa Tarikolot, Kecamatan Citeureup, terdengar keras bunyi seng seperti dipukul-pukul. Setelah ditelusuri, sumber suara ternyata berasal dari sebuah rumah warga tak jauh dari kantor desa.

Di rumah tersebut, nampak lima orang pria dewasa tanpa mengenakan baju, tengah memukul-mukul seng. Ternyata, mereka adalah para pengrajin kompor mitan yang masih bertahan hingga kini, meski pemerintah telah melakukan konversi dari mitan ke gas.

Salah satu dari lima orang pria tersebut adalah pemilik home industry kompor mitan bernama Didih (48) atau dikenal dengan sapaan mang Didih. Sosok bapak tujuh anak itu cukup dikenal di lingkungan Desa Tarikolot. Sehingga, untuk mencapai tempat pembuatan kompor mitan miliknya, cukup bertanya kepada warga di sekitar Jalan Desa Tarikolot.

Mang Didih beserta para pengrajinnya memang patut diberikan apresiasi. Betapa tidak, meski harus banting tulang pagi hingga sore dan jarang sekali ada permintaan kompor mitan, mereka masih bisa tersenyum.

Mang Didih pun mempersilakan wartawan koran ini melihat-lihat bengkelnya yang sederhana. Berada di bengkel berukuran 8 x 6 meter persegi, beralaskan tanah dan tak ada plafon itu, memang cukup panas. Pantas saja para pengrajin tak memakai baju.

Setelah melihat-lihat, mang Didih mulai bercerita tentang perjalanan usahanya membuat kompor mitan. Pada 1980 silam, merupakan awal ia mulai menapaki usaha tersebut. “Awal memulai usaha, saya tak punya modal cukup,” ujar Didih sambil tertawa lepas.

Modal awal diperolehnya dengan cara pinjam uang sanasini. “Pokoknya nekat aja lah. Kalau belum dicoba kan kita tak tahu juga ke depannya seperti apa,” imbuhnya.

Setelah memperoleh pinjaman, ia pun mulai membuka usaha. Perlahan tapi pasti, usahanya terus berkembang hingga tujuh anaknya bisa menyelesaikan sekolah STM dan SMA.

“Biarin saya yang bersusahsusah, yang penting pendidikan anak terjamin. Tidak seperti saya cuma lulusan kelas satu SD,” pungkasnya. (*)



 

 
Kiranya wajar jika Padepokan Mutumanikam Nusantara Indonesia (MMNI) di Desa Cibatutiga, Kampung Cisero, Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor, menjadi pusat kerajinan perhiasan. Sejumlah fasilitas megah dibangun untuk mendukung proses produksi.

Laporan: Rico Afrido Simanjuntak

BERLOKASI di atas bukit yang dikelilingi sawah serta pegunungan, membuat siapa pun betah berlama-lama di Padepokan MMNI. Apalagi, sejumlah fasilitas megah dibangun sehingga menambah keindahan suasana.

Fasilitas tersebut dibangun untuk mendukung proses kegiatan di Padepokan MMNI. Seperti, bangunan bengkel kerja, asrama berkapasitas 60 orang, serta kafe dan galeri seluas 200 meter persegi. Tak hanya itu, lingkungan padepokan juga dilengkapi kebun sayur dan buah, serta ternak ikan yang pengelolaannya melibatkan masyarakat setempat.

Padepokan MMNI dibangun dengan fungsi untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan para pengrajin, melalui pemberian standar upah yang layak serta penciptaan lapangan kerja. MMNI juga telah mendaftarkan logo dan namanya sebagai merek dagang dan jasa, pada Direktorat Jenderal Hak atas Kekayaan Intelekual (HAKI) Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Memperhatikan kebutuhan di lapangan, MMNI memiliki beberapa program kerja untuk 2010 dan 2011. Di antaranya, program bapak atau ibu angkat bagi pengrajin. Selanjutnya para pengrajin tersebut akan diwadahi dalam koperasi yang akan dibentuk oleh bapak atau ibu angkat dan MMNI. “Hasil produksi para perajin tersebut akan menjadi milik bapak atau ibu angkat, yang bisa digunakan sebagai suvenir perusahaan atau dijual baik di pasar domestik maupun luar negeri,” tutur Ani Yudhoyono, pada sambutan peresmian Padepokan MMNI, 22 Juli lalu.

Program kedua yakni memaksimalkan fungsi bengkel kerja. Bengkel kerja Padepokan MMNI juga terbuka bagi UMKMK, anggota binaan MMNI.

Ketiga yaitu program pengembangan industri pengasahan batu. “Mengingat potensi Indonesia sebagai salah satu sentra batu mulia atau semi mulia, MMNI merencanakan untuk mengembangkan industri pengasahan batu sebagai salah satu program kerjanya,” papar Ani Yudhoyono.

Lalu bagaimana dengan pengembangan area wisatanya? Bekerjasama dengan Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB), Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Bogor dan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, MMNI akan mengembangkan padepokan menjadi area wisata pelajar, masyarakat dan keluarga. Kegiatan wisata yang ada di Padepokan MMNI di antaranya, wisata alam, outbound, tracking, api unggun, memancing, bercocok tanam (berkebun, red), melukis, ceramah agama atau budi pekerti, serta demo membuat kerajinan perhiasan, tenun, sulam dan membatik.

Apalagi, potensi dan keindahan alam Desa Cibatutiga, memang sangat cocok sebagai kawasan tujuan wisata. Terlebih lokasinya relatif dekat dengan ibukota negara. “Kondisi yang potensial itu, menjadikan Desa Cibatutiga menjadi daerah kunjungan wisata baru di Jawa Barat,” ujarnya. (*)
 
 

 


 

 
Menginjak usia 3,5 tahun sejak pembentukannya, berbagai kegiatan rutin seperti pelatihan dan pemasaran, dilaksanakan secara efektif dan konsisten oleh Padepokan Mutumanikam Nusantara Indonesia (MMNI). Sehingga keberadaannya pun cukup dikenal masyarakat.

Laporan: Rico Afrido Simanjuntak

Sebelum resmi dibuka pada 22 Juli lalu, Pendopo MMNI di Desa Cibatutiga, Kampung Cisero, Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor, sudah dua kali menjadi tempat pelatihan bagi pengrajin perhiasan. 

Pertama pada Mei 2007. Diadakan pelatihan desain yang diikuti seratus pengrajin perhiasan dari Bali dan Jogjakarta dengan instruktur Mr Patrick Descamps dari galeri Wolfers, Belgia. Galeri tersebut membuat mahkota, kalung dan cincin kawin ratu Belgia.

Dan baru-baru ini, setelah peresmian 22 Juli lalu, dilaksanakan pelatihan yang diikuti 30 pengrajin dari Bali, Cirebon dan Sukabumi hingga 26 Juli mendatang. Pelatihan kali ini, mengundang instruktur dari Spanyol, yakni Sekjen Asosiasi Pengrajin Perhiasan dan Pembuat Jam Madrid, Armando Rodriguez Ocana.

Selebihnya, MMNI mengadakan kegiatan di luar pendopo. Di antaranya, membantu pelatihan 200 perajin di Jambi yang diselenggarakan oleh Dekranasda Jambi pada Juli 2007, serta pelatihan casting untuk 25 perajin dari Jawa Timur, Yogyakarta dan Bali.

Yang cukup membanggakan, MMNI pernah bekerjasama dengan Profesional Association of Jewelry Silvermen dan clockmakers of Madrid Spanyol, menyelenggarakan pelatihan "Pengembangan Desain Produk dan Strategi Pemasaran Perhiasan", dibengkel Kerja MMNI di Desa Cibatutiga, Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor yang diikuti 70 peserta.

Untuk pemasaran, MMNI menyalurkannya melalui berbagai pameran baik di kancah internasional maupun dalam negeri, seperti pameran di Mumbai India dan di London pada April 2007, dan di Los Angeles, Washington DC New York, Juni 2007. Sementara pameran di dalam negeri di antaranya, pameran Semanggi Expo 2006, Musium Nasional 2007 dan Jakarta Convention Center pada 2008 dan 2009.

Sementara itu, Ibu Negara Ani Bambang Yudhoyono dalam sambutannya ketika peresmian pendopo Mutumanikam Nusantara Indonesia Kamis (22/7) berharap agar, para perajin bisa mendapatkan pengetahuan lebih tentang teknik membuat perhiasan melalui berbagai kegiatan pelatihan yang diadakan MMNI. “Saya yakin, desain dan kualitas Mutumanikam Indonesia akan terus membaik dari waktu ke waktu. Sehingga semakin diminati dan dapat bersaing di pasar global,” jelasnya. (*)